HOME  ⁄  Ekonomi

Belanja Negara Triwulan I 2026 Melonjak 31,4 Persen, Wamenkeu Ungkap Capai Rp815 Triliun

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Belanja Negara Triwulan I 2026 Melonjak 31,4 Persen, Wamenkeu Ungkap Capai Rp815 Triliun
Foto: (Sumber : Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan materi dalam National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) di Grha Bhasvara Icchana Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026). ANTARA/Rizka Khaerunnisa..)

Pantau - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan realisasi belanja negara pada triwulan I 2026 tumbuh 31,4 persen secara tahunan menjadi Rp815 triliun atau 21,2 persen dari target APBN.

Kinerja Belanja dan Pendapatan Negara

Juda mengatakan realisasi belanja tahun ini lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Di triwulan I ini, belanja sudah mencapai 21,2 persen dari (target) APBN. Bandingkan dengan tahun lalu di mana belanja hanya 17,1 persen (setara 17,1 persen dari target APBN) dan growth-nya hanya 1,4 persen," ujarnya di Jakarta, Senin.

Ia merinci belanja pemerintah pusat mencapai Rp610,3 triliun atau 19,4 persen dari target APBN dengan pertumbuhan 47,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, transfer ke daerah tercatat Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target APBN, namun mengalami penurunan 1,1 persen secara tahunan.

Di sisi pendapatan, negara menghimpun Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan, setara 18,2 persen dari target APBN.

Penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun atau turun 3 persen.

Defisit APBN dan Proyeksi Ekonomi

Dengan kinerja tersebut, defisit APBN pada triwulan I 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Juda menyampaikan pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,5 persen secara tahunan.

Ia optimistis target tersebut dapat tercapai seiring percepatan belanja pemerintah dan menguatnya konsumsi domestik.

"Tren penguatan memang terjadi sejak September di triwulan IV kemarin. Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama di dalam melihat ekspektasi kondisi ekonomi ke depan itu ada pelemahan, tentu saja ini saya kira dampak dari perang di Timur Tengah," ujarnya.

Ia menambahkan peningkatan signifikan pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar 57,7 persen menjadi Rp155,6 triliun menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap kuat.

Penulis :
Ahmad Yusuf