
Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino.
Ajakan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Surabaya.
"Di peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana kali ini, mari bersama-sama memastikan kesiapsiagaan, mitigasi, serta langkah konkret dalam melindungi masyarakat Jawa Timur. Oleh karena itu, seluruh kepala daerah diminta bergerak proaktif sebelum puncak kemarau terjadi," ungkap Khofifah.
Kesiapsiagaan dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko dan dampak bencana di berbagai wilayah.
Pemerintah daerah diminta melakukan langkah antisipatif secara terencana, terukur, dan berbasis data.
Masyarakat juga diimbau berperan aktif dalam upaya pencegahan bencana.
Warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan sampah tanpa pengawasan serta menggunakan air secara bijak.
"Saya imbau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," tegasnya.
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dinilai mampu menurunkan risiko bencana di Jawa Timur.
Indeks Risiko Bencana Jawa Timur menunjukkan tren menurun dari 117,26 pada 2021 menjadi 95,75 pada 2024, meski sempat meningkat menjadi 108,36 pada 2025.
Kenaikan tersebut dipengaruhi perubahan variabel bahaya dan tingkat kerentanan wilayah.
Jawa Timur memiliki potensi bencana beragam seperti banjir, longsor, gempa bumi, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan.
Sebagian besar bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi faktor cuaca dan iklim.
Pada triwulan pertama 2026 tercatat 121 kejadian bencana yang didominasi angin kencang dan banjir.
Data tersebut berdampak pada kerusakan infrastruktur serta puluhan ribu kepala keluarga.
"Respons kita tidak boleh biasa-biasa saja. Tidak hanya reaktif, tetapi harus terukur, cepat, dan berbasis data," jelas Khofifah.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Timur mulai Mei di sekitar 56,9 persen wilayah.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus yang mencakup 70,9 persen wilayah.
Periode kritis kemarau diperkirakan mencapai 72,5 persen wilayah dengan durasi antara 220 hingga 240 hari.
Khofifah mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
- Penulis :
- Gerry Eka







