
Pantau - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak lulusan perguruan tinggi menjadi penjaga ruang digital Indonesia di tengah tantangan era post-truth.
Ajakan tersebut disampaikan saat acara wisuda di Telkom University Bandung.
"Di era post-truth, tantangan kita bukan lagi pada akses informasi, tetapi pada kualitasnya. Karena itu, para wisudawan harus bisa berperan juga sebagai agen perubahan dan menjadi pandu-pandu literasi digital di daerahnya masing-masing," ungkap Meutya.
Ia menekankan lulusan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan dalam menjaga kualitas informasi.
Tantangan utama di era digital saat ini adalah banjir informasi yang disertai meningkatnya misinformasi.
Pemerintah telah menerapkan berbagai regulasi untuk melindungi masyarakat, termasuk Peraturan Pemerintah tentang pelindungan anak di ruang digital.
"Kami ingin menyampaikan kepada para wisudawan dan wisudawati untuk juga menjadi duta-duta Tunas yang bisa membantu pemerintah menjaga keberlangsungan anak-anak kita agar mereka bisa hidup di ranah digital dan mendapatkan yang terbaik dan mengeluarkan yang mudarat," jelasnya.
Tingginya adopsi teknologi di Indonesia dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan.
Penguatan literasi digital dan etika penggunaan teknologi menjadi hal yang sangat penting.
"Kita tetap harus berhati-hati agar adopsi AI diikuti dengan rasa tanggung jawab, rasa keamanan, etika, transparansi, dan orientasi pada kepentingan manusia. Jadi meregulasi dengan ketat itu menjadi salah satu cara kita mengamankan tanpa bermusuhan dengan inovasi," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa negara tidak dapat bekerja sendiri sehingga diperlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Lulusan perguruan tinggi diingatkan memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang digital yang aman, beretika, dan berdaya saing.
- Penulis :
- Gerry Eka







