HOME  ⁄  Ekonomi

Gangguan Suplai Plastik Global Tekan Industri, Pemerintah Jaga Ketahanan Produksi Nasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Gangguan Suplai Plastik Global Tekan Industri, Pemerintah Jaga Ketahanan Produksi Nasional
Foto: (Sumber: Ilustrasi kemasan ramah lingkungan dari kertas. ANTARA FOTO/Saptono/hp.)

Pantau - Gangguan suplai plastik global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menghambat rantai pasok bahan baku dan berdampak pada berbagai sektor industri di Indonesia.

Dampak Rantai Pasok dan Kinerja Industri

Terganggunya pasokan plastik menyebabkan keterlambatan produksi, kenaikan biaya logistik, serta penurunan margin industri.

Waktu distribusi bahan baku seperti nafta meningkat dari sekitar dua minggu menjadi lebih dari satu bulan.

Plastik diketahui menjadi komponen penting yang menopang berbagai sektor industri dari hulu hingga hilir.

Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling terdampak karena bergantung pada plastik sebagai kemasan untuk menjaga kualitas produk.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia menekankan pentingnya ketersediaan bahan baku guna menjaga stabilitas produksi dan harga.

Kebutuhan bahan baku plastik nasional mencapai 9,2 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai 7,1 juta ton.

Kekurangan sekitar 2,1 juta ton masih harus dipenuhi melalui impor.

Industri kecil dan menengah menjadi sektor yang paling rentan terhadap gangguan suplai dan lonjakan harga bahan baku.

Upaya Pemerintah dan Diversifikasi Bahan

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia berupaya menjaga ketahanan industri plastik dari hulu hingga hilir.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan stok plastik nasional masih terjaga meski ada tekanan global.

Produsen dalam negeri seperti Lotte Chemical Indonesia turut memprioritaskan kebutuhan pasar domestik.

Pemerintah juga mendorong diversifikasi bahan baku termasuk penggunaan LPG dan bahan berbasis nabati.

Pendekatan ekonomi sirkular dilakukan melalui peningkatan kapasitas daur ulang plastik.

Saat ini, industri daur ulang telah berkontribusi sekitar 20 persen terhadap pasokan bahan baku plastik nasional.

Institute for Development of Economics and Finance menilai kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat industri daur ulang.

Selain itu, pemerintah mengembangkan alternatif kemasan nonplastik berbasis kertas atau paperboard.

Kemasan aseptik berbasis kertas saat ini memiliki porsi sekitar 28 persen dalam industri makanan dan minuman.

Kebutuhan nasional kemasan aseptik diperkirakan mencapai 8,3 miliar unit per tahun.

Pemerintah terus menjaga stabilitas harga dan distribusi agar pelaku industri, khususnya IKM, tetap dapat berproduksi.

Sinergi antara pemerintah dan pelaku industri dinilai penting untuk menjaga ketahanan industri nasional.

Penulis :
Gerry Eka