Pantau Flash
Ganjar-Prabowo-RK Jadi Capres 2024 Unggulan Versi Survei Indometer
Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Jokowi Terus Meningkat
2 Pemudik Asal Tangerang Lolos ke Solo, Ternyata Dinyatakan Positif COVID-19
KPK Bicara Tudingan Soal-soal Janggal TWK: Semua Disusun BKN
Ketahuan Bawa 7 Pemudik, Mobil Ambulans Dicegat di Gerbang Tol Cikarang

Tak Hanya Bikin Kulit Panas dan Kasar, Detergen Juga Bisa Mencemari Lingkungan

Tak Hanya Bikin Kulit Panas dan Kasar, Detergen Juga Bisa Mencemari Lingkungan Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Ibu-ibu rumah tangga milenial memiliki karakter yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Selain lebih aktif dan cenderung tidak bisa berdiam diri, ibu-ibu milenial biasanya lebih cerdas dan terbuka dengan sesuatu yang baru.

Karena melek informasi, mereka lebih ketat menjaga keluarganya. Saking pedulinya dengan keluarga, apalagi di zaman pandemi seperti sekarang mereka mulai beralih menjadi ibu-ibu yang Eco Friendly. 

Mereka jadi lebih Go Green, dan mengajak keluarganya untuk menggunakan segala sesuatu yang lebih natural. Dari mulai memakai benda yang dapat digunakan dalam waktu bertahun-tahun, hingga menggunakan bahan-bahan organik atau natural.

Baca juga: Masya Allah, Begini Penampakan Hajar Aswad 'Batu Surga' Jika Dilihat dari Dekat

Dalam kegiatan sehari-hari, deterjen merupakan salah satu komponen yang mutlak diperlukan untuk mencuci pakaian setiap harinya. Dari mencuci secara manual maupun menggunakan mesin, deterjen selalu menjadi kebutuhan pokok karena sifatnya yang bisa membersihkan pakaian. 

Tidak seperti di luar negeri yang sudah lama memakai deterjen berbahan aktif tumbuhan, umumnya deterjen yang beredar di Indonesia mengandung natrium perborat, pewangi, pelembut, natrium silikat, namun zat yang terkandung dalam deterjen tersebut dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena mengandung busa yang banyak.

Selain dapat mencemari lingkungan, beberapa deterjen yang beredar juga mengandung soda abu. Soda abu berfungsi untuk meningkatkan daya bersih pada pakaian, namun efek samping deterjen yang mengandung soda abu dapat membuat tangan kita menjadi panas saat kita bersentuhan dengan deterjen tersebut dan sering sekali tangan kita menjadi keriput dan meninggalkan bintik putih pada pakaian yang kita cuci.

Meskipun sifatnya dapat membersihkan pakaian kita, namun deterjen juga mempunyai kekurangan seperti di atas, yaitu dapat mencemari lingkungan karena zat kimia dan dapat membuat tangan kita menjadi panas hingga mengelupas.

Beberapa orang khususnya ibu milenial sering kali memperhatikan hal ini, mengingat mencuci pakaian adalah hal yang sering dilakukan oleh mereka.

Penyebab tangan kita menjadi panas dan kasar pada saat mencuci adalah kandungan LABSA (Linear Alkyl Benzene Sulphonic Acid) pada deterjen yang kita gunakan. 

LABSA adalah zat aktif dari minyak bumi yang kebanyakan digunakan oleh detergen biasa. Tapi sekarang ada solusi untuk tetap menjaga lingkungan tanpa harus mengurangi kualitas kebersihan pakaian kita, yaitu menggunakan deterjen yang berbahan aktif tumbuhan tanpa LABSA, sehingga menjaga tangan kita tetap lembut.

Mencuci dengan menggunakan deterjen yang mengandung MES adalah era baru mencuci pakaian yang ramah untuk kesehatan dan pilihan tepat untuk ibu milenial yang memperhatikan lingkungan dan keluarga. 

Baca juga: Tips Berfoto atau Rekam Video dengan Manfaatkan Ponsel di Momen Lebaran

Mencuci dengan tangan atau dengan mesin tidak perlu khawatir. Dengan kebaikan bahan aktif tumbuhan yang dapat mencuci sampai larut dan membersihkan hingga ke dalam serat pakaian.

Jika mengaku ibu milenial yang eco friendly, kita harus juga memerhatikan deterjen yang dipakai, demi kesehatan lingkungan dan juga kesehatan keluarga.

Mulai sekarang yuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Kita hanya perlu membiasakan diri, dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga. 

Sambil menunggu ada produk deterjen yang berbahan tumbuhan hadir di Indonesia, kita juga bisa memakai bahan alami seperti lerak, lemon, atau cuka untuk menghilangkan noda di pakaian.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty