Aplikasi Rukun Aplikasi Rukun
Pantau Flash
Kunjungi Tasta Tabanan Wildlife Park, Bamsoet Dukung Konservasi Flora Fauna
Ganggu Dominasi Duterte, Manny Pacquiao Akan Maju sebagai Capres Filipina
Deklarasikan Dukungan di Pilpres 2024, Sahabat Ganjar Siap Tempur di 17 Negara
Update COVID-19 Indonesia 19 September 2021, Kasus Aktif Turun 4.097, Sembuh Bertambah 6.186 Orang
Alhamdulillah Kabar Baik Lagi, Sebanyak 1.140.750 Dosis Vaksin Pfizer Tiba di Indonesia

Pakar Berikan Tips Cara Bedakan Kosmetik yang Mengandung Merkuri

Pakar Berikan Tips Cara Bedakan Kosmetik yang Mengandung Merkuri Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com Pakar yang juga Dokter Spesialis Dermatovenerologi, Nenden Sobarna menjelaskan beberapa cara membedakan kosmetik ilegal mengandung unsur berbahaya merkuri dengan salah satunya adalah bau menyengat yang coba ditutupi dengan memberikan pewangi.

"Kita lihat dulu apakah BPOM ada atau tidak, kalau misalnya ada cek juga website-nya takut itu palsu. Kemudian fisik dari barang itu, mengkilap, baunya menyengat kadang-kadang ditambah pewangi," kata dr. Nenden dalam diskusi virtual yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dipantau dari Jakarta, Kamis (9/9/2021).

Selain itu warnanya bisa juga abu-abu dan dengan tekstur sedikit lengket karena tidak larut dalam air.

Baca juga: Tips Aman Memilih Kosmetik Menurut Dokter

Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Penyakit Kulit dan Kelamin Universitas Yarsi Jakarta itu juga mengingatkan untuk mewaspadai produk yang langsung memberikan dampak putih kepada kulit dalam waktu singkat.

Dia juga mengatakan produk memiliki merkuri terkadang memiliki peringatan untuk tidak melakukan kontak dengan perhiasan seperti emas.

"Itu berarti ada merkuri di situ," tegas Dokter Spesialis Kulit itu.

Dampak merkuri tidak hanya berlaku kepada pengguna produk yang mengandung zat yang dikenal juga sebagai raksa itu tapi juga kepada orang yang berada di sekitarnya.

"Jadi pada waktu dia menggunakan itu terjadi penguapan," jelasnya.

Bahaya merkuri juga ditegaskan oleh Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati. Dia mengingatkan bahwa merkuri dapat memberikan dampak bagi manusia dan mengakibatkan berbagai penyakit.

Paparan kepada manusia dapat mengakibatkan kerusakan sistem saraf, ginjal, paru-paru, hati dan saluran pencernaan.

Merkuri, ujar Vivien dalam diskusi tersebut, adalah logam berat yang sangat berbahaya karena sifat toksik, bertahan di lingkungan dan dapat berpindah dalam jarak jauh di atmosfer.

Selain berbagai produk yang mengandung merkuri dan dapat digunakan oleh masyarakat seperti kosmetik ilegal dan pengukur suhu tubuh, terdapat juga potensi paparan akibat kebocoran ke lingkungan seperti dari penambangan emas ilegal.

Vivien menegaskan bahwa pemerintah Indonesia sudah menunjukkan komitmen untuk menghapuskan merkuri dengan menandatangani Konvensi Minamata dan meratifikasinya lewat UU Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Konvensi Minamata Mengenai Merkuri.

Pengesahan itu kemudian dilanjutkan dengan Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM) sejak 2019.

"Dengan Peraturan Presiden untuk mandat Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri, daerah-daerah sekarang diminta untuk membuat Rencana Aksi Daerah untuk Pengurangan dan Penghapusan Merkuri terutama di penambangan emas skala kecil yang kendalinya ada di daerah," demikian Vivien.

Tim Pantau
Editor
Gilang
Penulis
Gilang

Berita Terkait: