Aplikasi Rukun Aplikasi Rukun
Pantau Flash
Kunjungi Tasta Tabanan Wildlife Park, Bamsoet Dukung Konservasi Flora Fauna
Ganggu Dominasi Duterte, Manny Pacquiao Akan Maju sebagai Capres Filipina
Deklarasikan Dukungan di Pilpres 2024, Sahabat Ganjar Siap Tempur di 17 Negara
Update COVID-19 Indonesia 19 September 2021, Kasus Aktif Turun 4.097, Sembuh Bertambah 6.186 Orang
Alhamdulillah Kabar Baik Lagi, Sebanyak 1.140.750 Dosis Vaksin Pfizer Tiba di Indonesia

31,4 Persen Remaja di Jakarta Alami Kecanduan Internet

31,4 Persen Remaja di Jakarta Alami Kecanduan Internet Ilustrasi sosial media (Foto: Pixabay)

Pantau.comDokter spesialis kedokteran jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr dr Kristiana Siste Kurniasanti mengungkapkan sebesar 31,4 persen anak remaja di Jakarta mengalami kecanduan bermain internet.

“Ini adalah data penelitian sebelum COVID-19. Ada 31,4 persen remaja di Jakarta mengalami kecanduan di internet, angka ini menjadi angka yang cukup tinggi di dunia. Jadi masalah ini ternyata ada di Indonesia," kata Kristiana dalam talkshow virtual “Lindungi Anak Dari Penyalahgunaan NAPZA” secara daring di Jakarta, Jumat (30/7/2021).

Baca juga: Wagub DKI: Vaksin Penting dan Mendesak Mengingat Sumber Persoalan Pandemi

Ia mengatakan 91 persen anak mengakses internet di rumah. Melalui hal ini seharusnya orang tua telah mengetahui bahwa anak tersebut telah mengalami kecanduan bermain internet.

“Pada remaja, 18,3 persen mengalami kecanduan internet. Jadi satu dari lima orang mengalami kecanduan internet, dan juga untuk dewasa muda yang artinya berusia 18 tahun ke atas itu adalah sekitar 15 persen,” katanya. 

Kristiana mengatakan alasan anak kecanduan bermain internet terutama game online, disebabkan karena anak merasa permainan tersebut dapat memenuhi kebutuhannya.

“Pertama ada kebutuhan otonomi, dia bisa memilih avatarnya sendiri. Yang kedua adalah di games itu dia bisa berkompetisi lalu dia menang. Kemudian dia merasa diapresiasi. Ketiga adalah pada saat dia bermain games online, reward itu bisa secepatnya terjadi,” ujar dia.

Ia menegaskan agar anak tidak kecanduan bermain game, perlu adanya apresiasi dari orang tua sehingga anak merasa diakui, merasa memiliki tempat dan tidak lagi membutuhkan apresiasi dari dunia virtual.

Psikolog Ifa Hanifah Misbach mengatakan saat anak tidak mendapatkan tempat baik di rumah atau di sekolah, tidak dapat dukungan dan keunikannya tidak di apresiasi, anak akan mencari pergaulan yang bisa menerima dirinya.

Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Tabrak Lari, Ternyata Pelakunya Sopir Kepala Dinas Sosial!

“Intinya adalah ketika remaja tidak merasa sesuai dengan standar orang dewasa itu, pasti terdorong memilih kegiatan yang menantang buat dia,” kata Ifa menjelaskan alasan bahayanya anak yang merasa kurang diapresiasi.

Ifa mengajak orang tua untuk menyadari bahwa remaja memiliki efek penumpukan emosi yang tidak tersalurkan. Sehingga anak remaja tidak hanya butuh disalurkan emosinya, tapi namun butuh untuk diledakkan.  

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: