Pantau Flash
Relawan Deklarasikan Anies Baswedan sebagai Capres 2024, Dinilai Berhasil Tangani Ibu Kota
Gempa Berkekuatan 5,0 Magnitudo Guncangkan Sarmi Papua
Jokowi Minta Kepala Daerah Cek Langsung Prokes Belajar Tatap Muka
Sentil Kepala Daerah, Jokowi: Kita Senangnya Latah, Sawit Ramai Semua Tanam Sawit
DKI Turun Level PPKM, Anies Bolehkan Anak di Bawah 12 Tahun ke Tempat Wisata

Jepang Perpanjang Lockdown hingga 12 September

Jepang Perpanjang Lockdown hingga 12 September Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Jepang pada Selasa (17/8/2021) memperpanjang penguncian (lockdown) darurat COVID-19 di Tokyo dan wilayah lainnya hingga 12 September, demikian menurut berita lembaga penyiaran publik NHK.

Jepang juga akan memperluas aturan pembatasan ke tujuh prefektur lainnya.

Para pakar kesehatan masyarakat bertemu untuk membahas langkah-langkah tersebut dan Perdana Menteri Yoshihide Suga akan mengadakan konferensi pers pada pukul 21:00 (waktu setempat) untuk menjelaskan keputusan pemerintah.

Keadaan darurat di Jepang saat ini akan berakhir pada 31 Agustus, tetapi lonjakan kasus infeksi virus corona yang terus berlanjut telah mendorong seruan untuk memperpanjang status keadaan darurat itu.

Baca juga: Presiden Amerika Serikat Joe Biden Sampaikan Ucapan Selamat HUT Kemerdekaan RI

Tokyo mengumumkan 2.962 kasus harian baru COVID-19 pada Senin (16/8), setelah mencatat rekor 5.773 kasus pada Jumat (13/8).

Pemerintah Jepang akan memperluas status keadaan darurat ke beberapa prefektur, yakni Ibaraki, Tochigi, Gunma, Shizuoka, Kyoto, Hyogo dan Fukuoka, menurut laporan NHK.

Aturan pembatasan penyebaran virus corona di Jepang termasuk meminta restoran tutup lebih awal dan berhenti menyajikan alkohol dengan imbalan subsidi pemerintah.

Pemerintah juga akan memperluas tindakan "darurat semu" yang tidak terlalu ketat ke empat prefektur tambahan, yaitu Miyagi, Yamanashi, Toyama dan Gifu, menurut kantor berita Jiji.

Penerapan keadaan darurat yang berulang memiliki efek terbatas dalam memperlambat penyebaran virus corona di Jepang karena upaya kerja sama bersifat sukarela.

Kelelahan akibat pandemi dan liburan musim panas juga dianggap telah berkontribusi terhadap lonjakan kasus COVID-19 terbaru di Jepang, di mana hanya sekitar 37 persen warga yang telah divaksin sepenuhnya.

Tim Pantau
Editor
Adryan N
Penulis
Adryan N

Berita Terkait: