
Pantau - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di New York, Selasa (22/9/2026), untuk membahas China, keamanan ekonomi, serta penguatan kemampuan penangkalan dan respons aliansi Jepang-AS.
Pertemuan berlangsung sekitar 35 menit di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sehari sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan tiba di Washington untuk kunjungan kenegaraan pertamanya dalam 11 tahun.
Pemerintah Jepang menyebut Takaichi dan Trump membahas berbagai isu terkait China dan sepakat semakin memperkuat kemampuan penangkalan serta respons aliansi kedua negara.
Takaichi mengatakan kepada Trump bahwa situasi keamanan di Asia dan berbagai kawasan lain semakin memburuk serta menyampaikan keinginan menunjukkan kuatnya aliansi Jepang-AS kepada dunia.
Jepang-AS Bahas AI hingga Mineral Kritis
Takaichi mengatakan kerja sama keamanan ekonomi Jepang dan Amerika Serikat terus berkembang di sejumlah sektor strategis.
“Berkat kepemimpinan Donald dan juga kepemimpinan saya sendiri, kerja sama keamanan ekonomi bilateral di bidang-bidang seperti AI, semikonduktor, dan mineral kritis terus mengalami kemajuan,” kata Takaichi di hadapan awak media sebelum pembicaraan tertutup.
Trump dalam pertemuan tersebut turut menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan Takaichi dan perkembangan Jepang.
“Dia telah melakukan pekerjaan yang hebat,” kata Trump.
“Industri di Jepang berkembang sangat baik. Negara itu berjalan sangat baik. Ini merupakan peningkatan yang sangat besar, dan merupakan kehormatan bagi saya untuk bersamanya,” kata Trump.
“Dia adalah teman saya. Kami telah saling mengenal dengan sangat baik selama beberapa waktu terakhir,” kata Trump mengenai Takaichi.
“Dia akan menjadi perdana menteri yang hebat,” lanjut Trump.
Pertemuan tersebut menjadi pertemuan tatap muka pertama Takaichi dan Trump sejak Maret 2026 ketika Takaichi mengunjungi Washington.
Keduanya juga sempat berbicara sekitar lima menit di sela-sela KTT G7 di Prancis pada Juni 2026.
Hubungan Jepang-China Masih Tegang
Hubungan diplomatik Jepang dan China mengalami ketegangan sejak Takaichi pada November mengisyaratkan bahwa serangan terhadap Taiwan dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang dan dapat membenarkan respons dari angkatan bersenjatanya.
China yang memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya merespons pernyataan tersebut dengan sejumlah tindakan politik dan ekonomi terhadap Jepang, termasuk pembatasan ekspor logam tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai produk teknologi tinggi.
China belum menunjukkan tanda-tanda meredakan ketegangan dengan Jepang, sementara Beijing memprioritaskan upaya menjaga hubungan dengan Washington tetap terkendali.
Pemerintahan Trump juga mengkhawatirkan pembatasan ekspor tersebut dapat berdampak terhadap rantai pasok Amerika Serikat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




