Pantau Flash
Gus Menteri Minta Kades Segera Salurkan BLT, Bantu Ekonomi Warga Desa di Bulan Ramadan
Berstatus WN Amerika, MK Diskualifikasi Bupati Terpilih Orient Riwu Kore
Kabar Gembira dari Update Covid-19 Hari Ini, Tambahan Kasus Sembuh Lebih Banyak dari Positif
Mutasi COVID-19 B1525 Ditemukan di Batam, Dinkes Pastikan Tak Ada Kontak Erat Pasien
34 Napi Terorisme di Lapas Gunung Sindur Ucapkan Ikrar Setia kepada NKRI

Biografi Singkat dan Perjalanan Dakwah Sunan Ampel di Tanah Jawa

Biografi Singkat dan Perjalanan Dakwah Sunan Ampel di Tanah Jawa Warga beraktivitas di komplek Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/6/2020). Komplek Makam Sunan Ampel telah dibuka kembali bagi peziarah setelah ditutup pada 24 Maret 2020. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc.

Pantau.com - Penyebaran Agama Islam di tanah nusantara ini tak lepas dari kesembilan tokoh wali Allah yang tersebar di beberapa daerah, dan salah satunya adalah Sunan Ampel.

Wali Songo memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Sunan Ampel yang menyebarkan di Ampeldenta.

Beliau sangat berjasa dalam perkembangan dan penyebaran agam Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. 

Baca juga:Gus Menteri Ajak UIN Sunan Ampel Bersama Membangun Desa

Beliau juga mendapat gelar sebagai bapak dari para wali, karena dengan jasanya maka banyak terlahir pendakwah untuk menyebarkan agama Islam kelas satu yang ada di Pulau Jawa.

Nama asli beliau yaitu Raden Rahmad, kemudian mendapat gelar dengan sebutan sunan karena mandatnya menjadi seorang wali. Sedangkan nama Ampel Denta atau Ampel yaitu berasal dari nama tempat tinggalnya yang letaknya dekat dengan kota Surabaya.

Di masa kecilnya beliau di beri nama Sayyid Muhammad ‘Ali Rahmatullah, namun seusai pindah ke Jawa Timur, masyarakat memanggilanya dengan nama Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beliau lahir di Champa tahun 1401 Masehi.

Menurut para ahli dari beberapa sejarah merasa kesulitan bagaimana menentukan dimana Champa. Hal itu disebabkan, karena memang sampai saat ini belum ada pernyataan secara tertulis ataupun prasasti yang menyatakan bahwa Champa tersebut berada di kerajaan Jawa atau Malaka.

Semasa hidupnya, dalam menyebarkan ajaran agama Islam, Sunan Ampel populer dengan dakwahnya 'Moh Limo'. 

Beliau juga merupakan pencetus Kerajaan Islam pertama di Jawa dan turut membantu pembangunan Masjid Agung Demak.

Perjuangan Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia tak hanya dihargai semasa masih hidup saja. Setelah ia meninggal dunia dan hingga sekarang, masih banyak umat muslim Indonesia yang berziarah ke makamnya.

Dakwah Sunan Ampel ini bertujuan untuk memperbaiki dekadensi moral (Kemerostoanmoral) masyarakat saat itu. 

Saat itu dimana beberapa warga sekitar yang dulunya juga merupakan masyarakat abangan yang memang banyak penjudi dan penganut kepercayaan anismisme serta suka dengan yang namnya sabung ayam.

Perjalanan Dakwah Sunan Ampel

Di tahun 1443, Sunan Ampel bersama saudaranya, Ali Musada dan sepupunya Raden Burereh menginjakkan kaki di Pulau Jawa dan menetap di Tuban. Kemudian, ia ke Kerajaan Majapahit untuk menemui bibinya Dewi Sasmitraputri.

Selanjutnya, Sunan Ampel berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah Kerajaan Majapahit yang saat itu sedang dalam masa kelam. 

Hal ini karena kehidupan para adipati dan staf kerajaan yang suka bermewah-mewahan dan berpesta sehingga membuat Prabu Brawijaya sedih karena kerajaannya menjadi kacau.

Dalam praktiknya menyebarkan ajaran Islam, dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan, Sunan Ampel pun berhasil mengatasi situasi di Kerajaan Majapahit. Ia menyadarkan dan mendidik para bangsawan dan adipati kerajaan ke jalan kebaikan.

Selanjutnya, Sunan Ampel melanjutkan dakwahnya ke masyarakat sekitar. Ketika menyusuri desa, Sunan Ampel menemukan tempat kosong dan membangun masjid di lokasi tersebut sebagai tempat ibadah dan dakwah. Ia juga membangun pesantren. Kini, daerah tersebut dikenal dengan nama Ampeldenta.

Di antara murid-murid Sunan Ampel yang terkenal adalah Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. 

Dakwah Islam yang dilakukan Sunan Ampel bersamaan dengan lemahnya posisi kerajaan Majapahit.

Kendati Prabu Brawijaya menolak masuk Islam, namun ia menghormati posisi Sunan Ampel dan mengizinkan dakwahnya, asalkan tidak dilakukan dengan pemaksaan. 

Sebelum membangun pesantren, Sunan Ampel juga menarik perhatian masyarakat dengan membagikan kerajinan dalam bentuk kipas yang terbuat dari akar-akaran dan ayaman rotan.

Bagi yang mau mengambilnya, tidak perlu menukarkan dengan uang, melainkan dengan dua kalimat syahadat.

Sunan Ampel dikenal dengan dakwahnya yang singkat dan cepat dan menganut konsep 'Limo Moh' yang artinya tidak melakukan lima perbuatan tercela.

1.Moh Main (tidak mau berjudi)

2.Moh Ngombe (tidak mau mabuk)

3.Moh Maling (tidak mau mencuri)

4.Moh Madat (tidak mau menghisap candu)

5.Moh Madon (tidak mau berzina)

Perbedaan antara keberagamaan dan sosiologis masyarakat tentu menjadi faktor tantangan tersendiri dalam berdakwah bagi Raden Rahmat.

Namun, karena kecerdasannya yang dimiliki maka beliau mampu menemukan metode dakwah yang tepat. Metode yang digunakan Sunan Ampel dalam berdakwah berbeda dengan metode yang digunakan wali-wali yang lain.

Salah satunya yaitu menggunakan pendekatan dengan menerapkan pembaharuan dalam menghadapi masyarakat di kelas menengah ke bawah. 

Namun, beliau akan menggunakan metode pendekatan penalaran logis dan intelektual ketika menghadapi masyarakat yang lebih melek dan mengutamakan pendidikan atau kaum cendekia.

Metode kedua yang digunakan Raden Rahmat dalam berdakwah yaitu menggunakan metode seni dan budaya. Metode inilah yang menjadi keunggulan dari Raden Rahmat dalam menyebarkan agama Islam. 

Meskipun para wali yang lain pun juga mengaplikasikan seni dan budaya dalam menyebarkan Islam, namun pada masa Raden Rahmat masyarakat masih sangat buta terhadap ajaran agama Islam. 

Beliau cenderung lebih banyak menggunakan pendekatan secara intelektual. Metode yang beliau terapkan yaitu dengan memberikan wacana secara intelektual dan diskusi cerdas, kritis dan mampu diterima akal manusia. 

Hal itu yang membuat dakwah yang diberikan oleh Raden Rahmat lebih berkesan dan mudah untuk diikuti.

Baca juga:Berziarah ke Makam Sunan Ampel, Sandiaga: Potensi Wisata Religi Bisa Jadi Nilai Ekonomi

Makam Sunan Ampel

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1481 di Demak. Makamnya terletak di Masjid Ampel yang kini menjadi salah satu objek wisata religi di Surabaya. 

Di masjid yang dikelilingi oleh bangunan dengan arsitektur Tiongkok dan Arab itu, banyak umat muslim yang beribadah sekaligus berziarah ke makam Sunan Ampel.

Makam yang memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah yaitu berada di bagian barat masjid . Untuk menuju ke makam, maka Anda harus melewati 9 gapura. 

Gapuro yang berjumlah sembilan yaitu sesuai dengan jumlah arah mata angina, yang melambangkan mengenai sembilan wali atau Walisongo.

Dari kesembilan jumlah gapura, ada tiga gapura yang masih memiliki bangunan asli dari peninggalan beliau. 

Makam tersebut juga bersebelahan dengan makam istri pertamanya yaitu Nyai Candrawati. Beliau merupakan salah satu keturunan dari Raja Brawijaya V pada pemerintahan Kerajaan Majapahit. Metode Dakwah yang  Diterapkan untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Murid-murid Sunan Ampel

Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Rahmat memiliki banyak murid. Beberapa murid dari Raden Rahmat bahkan menjadi wali di generasi selanjutnya. 

Namun, salah satu murid Raden Rahmat yang paling terkenal adalah Mbah Sholeh. Beliau adalah murid yang paling disayangi.

Beberapa catatan mengatakan bahwa Mbah Sholeh merupakan murid dari Raden Rahmat yang memiliki karomah dan keistimewaan yang luar biasa. 

Dalam satu kesempatan, Sunan Ampel mengatakan bahwa Mbah Sholeh hidup selama 9 kali. Entah apa maksudnya, namun beberapa orang waktu itu dikatakan melihat Mbah Sholeh hidup lagi setelah kematiannya.

Akan tetapi, cerita tersebut tidak bisa diyakini secara utuh keyakinannya dan barangkali tidak bisa dijadikan standar kesalehan seseorang. Hal ini diperkuat dengan Islam yang tidak mengenal adanya hal-hal yang berbau mistis dan terkesan takhayul.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Syahrul