Pantau Flash
Gus Menteri Minta Kades Segera Salurkan BLT, Bantu Ekonomi Warga Desa di Bulan Ramadan
Berstatus WN Amerika, MK Diskualifikasi Bupati Terpilih Orient Riwu Kore
Kabar Gembira dari Update Covid-19 Hari Ini, Tambahan Kasus Sembuh Lebih Banyak dari Positif
Mutasi COVID-19 B1525 Ditemukan di Batam, Dinkes Pastikan Tak Ada Kontak Erat Pasien
34 Napi Terorisme di Lapas Gunung Sindur Ucapkan Ikrar Setia kepada NKRI

Riset Ungkap 1 dari 3 Penyintas COVID-19 Alami Gangguan Mental dan Saraf

Headline
Riset Ungkap 1 dari 3 Penyintas COVID-19 Alami Gangguan Mental dan Saraf Ilustrasi. (Foto: cottonbro/Pexels)

Pantau.com - Ilmuan ungkap satu dari tiga penyintas COVID-19 menunjukkan bahwa pandemi menyebabkan gelombang gangguan mental dan saraf. Hal itu diungkap dalam riset yang melibatkan 230.000 lebih mayoritas pasien Amerika terdiagnosis gangguan otak atau psikiatri dalam kurun waktu enam bulan.

Para peneliti yang melakukan analisis tersebut mengatakan, belum jelas bagaimana virus terkait dengan kondisi kejiwaan seperti kecemasan dan depresi. Namun, itu merupakan diagnosa yang paling umum di antara 14 gangguan yang mereka temukan.

Kasus pascaCOVID struk, demensia, dan gangguan saraf lainnya jarang terjadi, kata peneliti, namun masih signifikan, terutama bagi mereka yang mengalami COVID-19 parah.

Baca juga: Jangan Diremehkan, Penyintas COVID-19 Bisa Alami Distorsi Psikologis

"Hasil kami mengindikasikan bahwa penyakit otak dan gangguan kejiwaan lebih umum setelah COVID-19 dibanding setelah flu atau infeksi pernapasan lainnya," kata Max Taquet, psikiater di Universitas Oxford Inggris, yang juga memimpin riset tersebut, dilansir dari Reuters, Kamis (8/4/2021).

Riset itu tidak dapat menentukan mekanisme biologis atau psikologis yang dilibatkan, katanya. Namun, menurutnya penelitian mendesak diperlukan guna mengidentifikasi ini "dengan maksud untuk mencegah atau mengobati itu."

Pakar kesehatan semakin prihatin dengan bukti risiko gangguan otak dan kesehatan mental yang lebih tinggi di kalangan penyintas COVID-19. Riset sebelumnya dari peneliti yang sama tahun lalu menemukan, 20 persen dari penyintas COVID-19 terdiagnosis gangguan kejiwaan dalam waktu tiga bulan.

Temuan baru ini, yang dipublikasi di jurnal Lancet Psychiatry, menganalisis catat kesehatan 236.379 pasien COVID-19, yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat, dan menemukan 34 persen di antaranya terdiagnosa penyakit kejiwaan atau saraf dalam waktu enam bulan.

Baca juga: Bagi Penyintas COVID-19 di Indonesia, Sembuh Bukanlah Akhir dari Segalanya

Gangguan ini secara signifikan lebih umum pada pasien COVID-19 dibanding dengan kelompok pembanding mereka yang sembuh dari flu atau infeksi pernapasan lainnya selama periode yang sama, kata peneliti, menunjukkan COVID-19 memiliki dampak yang spesifik.

Kecemasan,17 persen dan gangguan suasana hati (mood), 14 persen adalah yang paling umum, dan sepertinya tidak terkait dengan seberapa ringan atau parah COVID yang dialami si pasien. Akan tetapi, pasien COVID-19 parah di ICU, 7 persen di antaranya mengalami stroke dalam waktu enam bulan, dan hampir 2 persen terdiagnosa demensia.

"Meski risiko individu untuk sebagian besar gangguan kecil, efek terhadap seluruh populasi bisa jadi besar," kata Paul Harrison, profesor kejiwaan Universitas Oxford yang juga memimpin riset tersebut.

Tim Pantau
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi