Forgot Password Register

Menteri PPN Bongkar 3 Persoalan Pemerintah Hadapi Revolusi Industri 4.0

Bambang Brodjonegoro. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika) Bambang Brodjonegoro. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Memasuki revolusi industri 4.0 atau digitalisasi Industri, nampaknya masih banyak yang harus dibenahi pemerintah dalam pengembangan industri di Indonesia.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satunya adalah produktivitas tenaga kerja industri.

"Data IMF menunjukkan produktivitas tenaga kerja Indonesia stagnan selama lebih dari satu dekade terakhir, sementara China dan lndia mengalami kenaikan yang pesat," ujarnya saat pemaparan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018).

Baca juga: Duh! Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp4.773 Triliun, Ini Rinciannya..

Selain itu, daya saing industri nasional juga dinilai lemah. Mantan Menteri Keuangan itu mengungkapkan, hal tersebut dapat tercermin dari Kenaikan Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) Indonesia.

"Menggambarkan penggunaan kapital yang melemah dikarenakan belum optimalnya fungsi intermediasi perbankan dan akses keuangan yang terbatas bagi masyarakat," jelas Bambang.

Selanjutnya kata Bambang, bidang ekspor produk manufaktur atau produk industri yang didominasi produk teknologi rendah.

"Rendahnya proporsi ekspor dengan kandungan teknologi tinggi mengindikasikan lndonesia belum berpartisipasi optimal dalam rantai nilai global," kata dia.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Evaluasi Proyek Strategis Nasional Senilai Rp264 Triliun

Saat ini, sambungnya, karakteristik produk ekspor Indonesia bersifat homogen dan dinilai tertinggal dalam mengembangkan produk baru di bidang manufaktur.

"Produk ekspor Indonesia terkonsentrasi pada produk hasil komoditi dan barang pertambangan, seperti batubara, CPO, dan karet, dengan sedikit kontribusi dari ekspor barang permesinan," katanya. 

Pengembangan industri Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara lain seperti, Thailand dan Malaysia yang dinilai memiliki karakteristik produk ekspor yang lebih heterogen dan berada dalam posisi yang lebih baik dalam menangkap perubahan konsumsi global. 

Negara-negara tersebut juga dapat mendorong nilai tambah yang tinggi, serta lebih kuat dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More