Forgot Password Register

Headlines

Filipina Selidiki Bocornya Jutaan Data Pengguna Facebook

Ilustrasi Facebook (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi) Ilustrasi Facebook (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Lembaga pemantau privasi Filipina atau yang dikenal dengan Komisi Privasi Nasional (NPC), memulai penyelidikan terhadap Facebook terkait kebocoran data lebih dari satu juta pengguna di Filipina. Selain Amerika Serikat, Filipina adalah negara dengan jumlah pengguna yang datanya disedot oleh Cambridge Analytica, dengan jumlah 1,17 juta orang.

Dalam sebuah surat kepada pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, tertanggal 11 April 2018, NPC mengatakan bahwa pihaknya akan menyelidiki bagaimana caranya Facebook membagi data pribadi warga Filipina kepada pihak ketiga. NPC juga meminta perusahaan media sosial itu mengambil langkah nyata dalam melindungi kerahasiaan penggunanya.

"Kami memulai investigasi terhadap Facebook untuk mengetahui apakah ada pemrosesan data pengguna Filipina yang tidak sah, dan juga kemungkinan pelanggaran undang-undang privasi data," kata NPC dalam surat yang dipublikasikan pada Jumat (13/4/2018).

Sementara itu, juru bicara Facebook mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melindungi informasi pengguna dan bersedia untuk bekerja sama dengan lembaga pengawas privasi Filipina.

"Baru-baru ini kami memperbaharui alat pelindung privasi bagi pengguna agar mereka bisa membatasi akses data di Facebook," kata Facebook.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa warga Filipina termasuk sebagai pengguna media sosial teraktif di dunia. Mereka rata-rata menghabiskan waktu lebih dari empat jam sehari di Facebook.

Facebook mengakui bahwa 87 juta data pribadi pengguna dari seluruh dunia secara ilegal diakses oleh Cambridge Analytica. Belakangan Cambridge Analytica mengakui bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah salah satu klien mereka. Diduga, data ilegal itu digunakan untuk kepentingan kampanye Donald Trump untuk menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.

Untuk kasus di Filipina, sebuah surat kabar Hong Kong mengabarkan bahwa beberapa orang yang terlibat dalam kampanye Presiden Rodrigo Duterte pada 2016, telah bertemu dengan Alexander Nix, yang merupakan mantan direktur eksekutif Cambridge Analytica.

Para pejabat itu mengatakan bahwa pertemuan dengan Nix terjadi saat istirahat makan siang di tengah seminar di Manila. Namun hal itu dibantah juru bicara presiden, yang mengatakan tim kampanye Duterte tidak bekerja sama dengan Cambridge Analytica.

Duterte, mantan wali kota yang muncul di luar lingkaran elit politisi nasional, dengan gemilang berhasil menggunakan media sosial untuk membantu dia memenangi pemilu 2016 dengan selisih yang sangat besar.

Mereka mempekerjakan sejumlah artis media sosial mempromosikan Duterte. Namun Duterte mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan media sosial dan membantah punya hubungan dengan Cambridge Analytica.

"Kenapa saya harus membayar orang-orang bodoh dari Cambridge itu untuk kampanye saya? Saya justru bisa kalah," kata Duterte.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More